ICMI ITU INKLUSIF Membumi untuk Umat
RUPAMATA.ID, PAREPARE--ICMI lahir bukan untuk ekslusif yang hanya merangkul para sarjana saja. Pemahaman seperti ini jauh dari makna cendekia. ICMI tidak boleh menjadi menara gading.
Menara gading itu tinggi, megah tapi eksklusif. Dari atas, pemandangannya luas. Tapi apa gunanya pemandangan luas jika yang di bawah tidak pernah merasakan teduhnya? Apa artinya tumpukan jurnal, diskusi ilmiah, dan seminar internasional, jika petani, nelayan, pedagang di pasar, dan buruh tidak pernah merasakan manfaat keberadaan ICMI.
ICMI lahir bukan untuk menjadi eksklusif untuk para sarjana tetapi berkumpulnya para cendekiawan muslim yaitu mereka yang memiliki kepedulian sosial, jadi poinnya bukan karena orang itu sarjana.
Sejarah. Tahun 1990, ICMI didirikan oleh B.J. Habibie dengan semangat _izzul Islam wal muslimin_. Tujuannya jelas: mengangkat harkat umat Islam yang saat itu tertinggal dalam pendidikan, ekonomi, dan politik. ICMI adalah rumah gerakan, bukan ruang seminar. Kalau hari ini ICMI hanya sibuk dengan diskysi di hotel berbintang, lalu abai pada masalah UMKM yang digerus pinjol, abai pada anak putus sekolah, maka kita telah mengkhianati cita-cita pendirian ICMI.
Syarat cendekiawan itu bukan ijazah sarjana.
Kata “cendekia” berasal dari kata “cendekia” yang artinya tajam pikiran, luas wawasan, jernih nurani. Rasulullah SAW tidak bisa membaca tetapi beluau cendekiawan terbesar sepanjang sejarah dan mengubah dunia.
Hari ini banyak tokoh umat yang tidak S1, tapi pikirannya melampaui sarjana. Ada ustaz kampung yang berhasil membangun koperasi syariah untuk 500 jamaah. Ada kepala desa tidak tamat SMA yang berhasil menurunkan angka stunting jadi nol. Mereka ini cendekiawan dalam arti sesungguhnya: _orang yang berpikir dan berbuat untuk kemaslahatan_.
Oleh karena itu pengurus ICMI tidak wajib sarjana. Syarat yang mrlebeli ICMI harusvsarjana justru akan membuat ICMI elitis, jauh dari akar rumput. ICMI harus inklusif. Seolah olah ICMI bukan untuk pedagang, petani, nelayan, buruh, selama mereka punya gagasan, punya karya nyata, dan mau berkhidmat untuk umat. Gelar akademik penting, tapi lebih penting adalah keberpihakan dan kebermanfaatan.
Indeks literasi Al-Qur’an masih rendah. Kemiskinan ekstrem di kantong-kantong muslim masih tinggi. Anak muda muslim banyak yang terpapar judi online dan narkoba. Ini bukan waktunya ICMI asyik berdebat teori di ruang tertutup tetapi saatnya melihat realitas umat.
ICMI harus menjadi _problem solver_. Bikin pelatihan digital marketing untuk ibu-ibu majelis taklim. Dampingi petani agar tidak dipermainkan tengkulak. Advokasi anak-anak korban pinjol. Buat posko bantuan hukum gratis untuk marbot masjid yang tanahnya diserobot.
Menara gading itu indah dilihat, tapi dingin ditinggali. Jangan sampai ICMI hanya dikenang sebagai organisasi yang pandai membuat rekomendasi, tapi nol dalam eksekusi. Jangan sampai kita dipanggil “cendekiawan”, tapi umat memanggil kita “tidak kenal”.
Mari kita robek sekat itu. Buka kepengurusan untuk semua elemen umat. Ukuran pengurus bukan dari banyaknya jumlah sarjana tetapi seberapa banyak pengabdiannya “Apa yang ICMI perbuat untuk umat yang lapar, yang bodoh, yang terzalimi?.
