Mentorta dan IAIN Parepare Antar Mahasiswa Mazawa Juara 2 BRINATHON IRIFair BRIN 2026
Keberhasilan ini tidak terlepas dari proses pendampingan intensif yang dilakukan oleh Syaifullah, selaku mentor Mentorta, yang mendampingi mahasiswa sejak tahap awal pengembangan ide hingga kompetisi tingkat nasional.
Berangkat dari Persoalan Nyata Masyarakat
Muhammad Rahmadana dan Meilani Maghfira menjelaskan bahwa ide Green Zakat muncul dari keprihatinan terhadap kondisi petani dan nelayan yang menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim.
“Awalnya kami melihat bahwa perubahan iklim sangat berdampak pada petani dan nelayan. Pendapatan mereka sering tidak menentu karena kondisi cuaca dan lingkungan. Kami kemudian berpikir bahwa zakat tidak hanya dapat digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim. Dari situlah muncul ide tentang Green Zakat,” ungkapnya.
Menurut mereka, tantangan terbesar dalam penelitian tersebut adalah mengembangkan gagasan agar memiliki dasar akademik yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami harus mempelajari banyak hal, seperti zakat, perubahan iklim, serta kondisi petani dan nelayan. Selain itu, kami juga harus belajar bagaimana menyampaikan ide tersebut dengan baik saat kompetisi,” jelasnya.
Dalam proses pengembangan penelitian, mahasiswa mendapatkan pendampingan dari Mentorta melalui mentor Syaifullah.
Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada penyempurnaan karya ilmiah, tetapi juga membangun pola pikir mahasiswa agar mampu menghasilkan riset yang memiliki dampak sosial.
“Mentoring dari Kak Syaifullah sangat membantu kami. Beliau banyak memberikan arahan dalam mengembangkan ide, mencari referensi, dan menyusun penelitian. Beliau juga mendorong kami untuk berpikir lebih kritis dan tidak hanya mengikuti arahan, tetapi memahami sendiri penelitian yang kami buat,” ujar mahasiswa.
Ia juga menambahkan bahwa mentor memberikan motivasi agar mahasiswa tidak merasa rendah diri ketika berkompetisi dengan perguruan tinggi besar.
“Beliau selalu mengingatkan kami agar jangan pernah takut bersaing dengan kampus-kampus besar. Kami harus percaya bahwa kualitas ide dan proses kerja keras dapat membawa kami bersaing di tingkat nasional,” tambahnya.
Syaifullah, menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai dari penguatan ide hingga kesiapan mahasiswa menghadapi kompetisi.
Menurutnya, mahasiswa sebenarnya memiliki banyak potensi, namun membutuhkan ruang pendampingan agar mampu mengembangkan gagasan menjadi karya ilmiah yang kompetitif.
“Pendampingan riset bukan hanya membantu mahasiswa menyelesaikan sebuah lomba, tetapi bagaimana mereka mampu menemukan masalah, membangun argumentasi ilmiah, dan percaya diri dengan gagasan yang mereka miliki,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa dari perguruan tinggi keagamaan juga mampu bersaing dengan berbagai institusi besar melalui persiapan dan pembinaan yang tepat.
Founder Mentorta: Kolaborasi Tridharma Menjadi Kunci Penguatan Potensi Mahasiswa
Founder Mentorta, Muh. Ilham Jaya, menyampaikan bahwa capaian mahasiswa IAIN Parepare tersebut merupakan bagian dari semangat kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi dan ekosistem pendampingan akademik.
Ia menjelaskan bahwa Mentorta telah menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Parepare melalui nota kesepahaman (MoU) dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
“Kami ada MoU dengan LPPM IAIN Parepare untuk saling bersinergi dalam hal tridharma perguruan tinggi. Pendampingan seperti ini kami harapkan juga dapat dilakukan oleh mentor-mentor kami yang lain untuk mengarahkan dan membina mahasiswa, khususnya dalam bidang riset,” jelasnya.
Menurutnya, banyak mahasiswa memiliki potensi besar, tetapi membutuhkan akses terhadap informasi, arahan, serta penguatan agar mampu mengembangkan kemampuan mereka.
“Kami percaya banyak mahasiswa sebenarnya punya potensi, namun yang mereka butuhkan adalah informasi, pengarahan, dan penguatan-penguatan agar mereka mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tambahnya.
IAIN Parepare Dorong Budaya Riset Mahasiswa
Wakil Rektor III IAIN Parepare, Dr. Kaharuddin, memberikan apresiasi terhadap capaian mahasiswa tersebut.
Menurutnya, keberhasilan meraih Juara 2 BRINATHON IRIFair 2026 menjadi bukti bahwa mahasiswa IAIN Parepare memiliki kemampuan untuk bersaing secara nasional.
“Prestasi mahasiswa IAIN Parepare sungguh luar biasa. Dalam keikutsertaan pertama kalinya langsung tembus dua besar tingkat nasional menjadi indikator bahwa kemampuan mahasiswa kita mampu bersaing dengan perguruan tinggi dalam level nasional,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kampus akan terus memperkuat pembinaan mahasiswa melalui pencarian bakat dan pengembangan minat dalam bidang riset.
“IAIN Parepare harus terus melakukan pembinaan dan pencarian bakat dari mahasiswa kita dalam bidang riset. Melalui unit dan lembaga terkait harus terus menelusuri bakat dan minat mahasiswa serta melakukan pembinaan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dr. Kaharuddin juga mengajak mahasiswa agar memiliki kepercayaan diri untuk berkompetisi.
“Mahasiswa harus percaya diri dan yakin bisa bersaing dengan perguruan tinggi lain. Terus belajar dan mengasah diri dengan aktif mengikuti pelatihan dan pembinaan, baik yang dilakukan oleh kampus maupun secara mandiri,” pesannya.
Mazawa: Green Zakat Berpotensi Dikembangkan Menjadi Riset Lebih Besar
Ketua Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa), Sulkarnain, S.E., M. Si., menilai keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan penelitian yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi prestasi mahasiswa dalam mengembangkan Green Zakat. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa Mazawa mampu menghasilkan ide penelitian yang inovatif dan relevan dengan persoalan masyarakat, khususnya zakat dan perubahan iklim,” ujarnya.
Menurutnya, konsep Green Zakat memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi penelitian lanjutan.
“Green Zakat sangat berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Bahkan dewan juri menyampaikan bahwa ide ini layak dikembangkan menjadi penelitian untuk disertasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa terdapat peluang pengembangan riset tersebut dalam konteks internasional.
“Mereka juga menyampaikan bahwa jika dikembangkan dan diajukan ke perguruan tinggi di Timur Tengah, ada peluang untuk mendapatkan beasiswa. Karena itu, kami berharap Green Zakat tidak berhenti di kompetisi, tetapi terus dikembangkan menjadi penelitian yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Dari Kompetisi Menuju Kontribusi Sosial
Setelah meraih penghargaan nasional, tim Green Zakat berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian tersebut agar tidak berhenti sebagai karya kompetisi.
Mereka berharap konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama petani dan nelayan yang menghadapi dampak perubahan iklim.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan lembaga pendampingan seperti Mentorta mampu menciptakan ekosistem riset yang produktif. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, ide mahasiswa dapat berkembang menjadi inovasi yang memiliki nilai akademik sekaligus manfaat sosial.(rls)*
