Komunitas Vintage Parepare Hadirkan Ruang Nostalgia di CCF 2026
RUPAMATA.ID, PAREPARE--Komunitas Vintage Parepare hadir di Celebes Creative Festival (CCF) di Lapangan Andi Makkasau Kota Parepare, (9/7/2026).
Bendahara Vintage Parepare, Muhammad Iqbal, mengatakan keikutsertaan komunitasnya dalam pameran tersebut bertujuan memperkenalkan kembali berbagai benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masa lampau sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
“Selama ini komunitas kreatif, khususnya pencinta barang-barang vintage, masih kurang mendapatkan ruang. Melalui pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa barang-barang lama bukan sekadar koleksi, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan edukasi,” ujarnya.
Menurut Iqbal, barang-barang yang dipamerkan merupakan koleksi vintage atau barang jadul yang berbeda dengan barang antik. Koleksi tersebut antara lain radio lawas, peralatan rumah tangga, lampu klasik, sepeda tua, hingga berbagai benda yang pernah digunakan masyarakat pada era 1940-an hingga 1980-an.
Ia menjelaskan, setiap koleksi diperoleh melalui proses yang tidak mudah. Bersama anggota komunitas, mereka kerap berburu barang hingga ke pelosok kampung, mendatangi rumah-rumah warga, bahkan mencari di gudang atau tempat penyimpanan lama untuk menemukan benda-benda yang masih memiliki nilai sejarah.
“Kadang barang yang kami temukan sudah rusak atau tidak berfungsi. Namun kami restorasi dan rawat agar tetap bisa dinikmati masyarakat tanpa menghilangkan nilai sejarahnya,” katanya.
Selain memamerkan koleksi asli, Vintage Parepare juga menghadirkan karya kreatif hasil modifikasi barang-barang lama. Salah satunya lampu klasik yang disulap menjadi lampu hias tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Menurut Iqbal, kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa barang lama masih dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai estetika.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat melihat dokumentasi sejarah Kota Parepare, mulai dari foto-foto angkutan kota tempo dulu, Pasar Lakessi, Kantor Pos pada era 1940-an, Masjid Raya, hingga aktivitas perdagangan di Pelabuhan Parepare. Seluruh koleksi tersebut diharapkan dapat menjadi media pembelajaran sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Meski memiliki koleksi yang cukup banyak, hingga kini Vintage Parepare belum memiliki sekretariat. Seluruh koleksi masih disimpan di rumah masing-masing anggota. Karena itu, komunitas tersebut berharap pemerintah dapat menyediakan ruang atau memanfaatkan bangunan yang tidak lagi digunakan untuk dijadikan museum edukasi.
“Harapan kami, ada tempat yang bisa menjadi museum edukasi agar masyarakat bisa mengenal sejarah Parepare melalui berbagai koleksi yang kami miliki,” pungkasnya.
Iqbal juga menegaskan bahwa Vintage Parepare terbuka bagi siapa saja yang memiliki minat terhadap barang-barang vintage dan sejarah. Tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung selain memiliki kepedulian terhadap pelestarian benda-benda bersejarah.
Dalam pameran kali ini, Vintage Parepare menampilkan puluhan koleksi yang berasal dari rentang waktu 1940-an hingga 1980-an. Keikutsertaan mereka diharapkan menjadi langkah awal agar komunitas pecinta sejarah dan vintage di Parepare semakin dikenal serta mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam upaya melestarikan warisan sejarah daerah.(*)
