RUPA MATA

RUPA MATA

  • Nasional
  • Daerah
  • Regional
  • Budaya & Seni
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Opini
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Beranda
  • A. Makmur Makka
  • Ibrah La Iman
  • Opini

Menetapkan Hari Jadi Kota Parepare (Bagian 1)

Oleh Hestiana
17 Februari

Penulis: Andi Makmur Makka

RUPAMATA.ID, PAREPARE--Saya beruntung menyaksikan Gubernur Andi Pangeran Petta Rani, Gubernur Sulawesi Selatan datang ke Parepare untuk melantik H. Andi Mannaungi menjadi Wali Kota pertama Kota Madya Parepare, pada 17 Pebruari 1960, sekaligus meresmikan terbentuknya Kota Madya Parepare.

Sebelum berangkat ke upacara peresmian dan pelantikan Wali Kota di ruangan pemerintah afdeling Parapare (sekarang kantor Dispenda), beliau singgah beristirahat sejenak di rumah orang tua saya di Jalan Daeng Parani No.1, setelah menempuh perjalanan safari dari Makassar, untuk seterusnya melantik Bupati/Kepala Daerah lainnya; Barru, Pinrang, Sidrap, Enrekang.

Semua kabupaten ini dulunya menjadi daerah Onderafdeling Parepare. Tetapi kita tidak boleh keliru, bahwa pada hari itu, tanggal 17 Februari, nama Kota Madya Parepare, hanya diresmikan lahirnya secara administrasi. Sejatinya Kota Parepare tumbuh dari perjumpaan antara sejarah kerajaan-kerajaan lokal pesisir Sulawesi Selatan dan dinamika perubahan sosial-politik pada awal abad ke-20.

Wilayah yang kini dikenal sebagai Parepare sejak lama berada dalam lingkup pengaruh kerajaan-kerajaan Bugis kuno seperti Suppa, Bacukiki, Soreang yang memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan, pelayaran, dan kebudayaan di pesisir Barat Sulawesi Selatan.

Sejarah kota, bukan semata soal kapan suatu tempat resmi disebut kota oleh negara, melainkan proses panjang bagaimana sebuah ruang dihuni secara menetap, memiliki fungsi ekonomi, politik, sosial, dan simbolik membentuk jaringan kekuasaan dan kebudayaan, diakui oleh komunitasnya sebagai pusat kehidupan. Dengan demikian, sejarah kota adalah sejarah ruang hidup manusia, bukan hanya sejarah administrasi.

Banyak pemerintah daerah keliru ketika menganggap sejarah kota dimulai saat ditetapkan sebagai gemeente (system pemerintahan kota yang ditentukan colonial Belanda); adanya Wali Kota pertama, adanya Surat Keputusan. Padahal itu hanya "sejarah administrasi”, bukan sejarah kota itu sendiri.

*Tunipallangga Ulaweng dan Logika Kota Maritim Gowa.

Ada penulis dan bahkan brosur Pemerintah Kota Parepare, menyebut Raja Gowa Manrigau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga Ulaweng (±1547–1565) sebagai arsitek awal negara maritim Gowa menemukan dan memberikan nama pertama kali Kota Parepare, dengan narasi popular,  bahwa nama kota Parepare berasal dari frasa “baji' ki anne pare”. Konon maksudnya: “bagus di sini dibuat”. Saat itu Karaeng Tunipallangga menunjuk ke arah laut, maka ditafsirkanlah yang bagus dibuat adalah Dermaga/Pelabuhan.

Ada juga yang mengatakan asal nama kota Parepare diambil dari frasa “kain penghias” yang dalam naskah kuno I Lagaligo menyebut "fura makkannani lakka'na Parepare" yakni "telah terpasang indah kain penghias”. Selain adapula yang menarik makna Parepare dari penyebutan warga 'Parapara' bermakna rumput liar besar memenuhi bebukitan. Serta belakangan kata 'Pare' diidentikkan dengan makna 'padi/beras' dari bahasa Ta'e Luwu. 

Terlepas dari perkiraan-perkiraan ini, kita bisa menelusuri kebenaran bahwa berdasarkan buku sejarah memang tertulis bahwa pada abad ke 15, Tunipallaga Ulaweng (Leonard Andaya pada buku “The Heritage of Arung Palakka”), menempatkan Tunipallangga Ulaweng (±1547–1565), sebagai arsitek awal negara maritim Gowa.

Raja Gowa ke XI ini, memang raja yang berkarakter ekspansionis, menaklukkan kerajaan lain yang belum masuk pengaruh kerajaan Gowa, bahkan memerangi kerajaan-kerajaan Bugis sampai ke Kerajaan Bone. Keunggulan Tunipalangga, dia pulalah yang paling kreatif dan menciptakan adminstrasi kerajaan, teknologi persenjataan  perang seperti memperpendek batang tombak dan membuat peluru pelempar, peluru mencampur batu bata, menciptakan sistem bobot dan ukuran timbangan, dan lain-lain.

Pada masa berkuasa Tunipalangga, ketika berada di Kawasan Kerajaan Soreang dan Suppa, Bacukiki (sekarang hanya jadi kecamatan). Tunipalangga memerintahkan untuk memindahkan bandar perdagangan Bacukiki ke Somba Opu di kerajaan Gowa, sehingga pusat perdagagan internasional Bacukiki akhirnya hilang yang semula sebagai bandar transit, pelabuhan pengumpul hasil pedalaman Ajatappareng, menjadikan simpul awal jaringan dagang Gowa sebelum Somba Opu menguat. Pada saat itu pulalah Tunipalangga Uleweng menyebut frasa “baji' ki anne pare”, yang dianggap asal mula nama “Parepare”.

Jika peristiwa ini pun bisa teruji kebenarannya, Tunipalangga bukan “mendirikan kota dari nol” dengan konon menyebutkan “bagus di sini dibuat” atau "sesuatu yang tiada diadakan" melainkan: mengintegrasikan bandar-bandar pesisir, memusatkan perdagangan, memindahkan gravitasi ekonomi ke lokasi yang lebih strategis. Mengambil kesimpulan, seolah-olah  Parepare “didirikan” (founded) oleh Tunipallangga, padahal tidak berarti kawasan di mana Kota Parepare berada sekarang ini adalah “kota kosong”, tetapi hanya awal Parepare dimasukkan ke dalam sistem politik, ekonomi Gowa. Ini penting secara epistemologis.

Sementara itu, pertimbangan yang lebih bisa diterima bahwa pemindahan bandar Bacukiki ke Somba Opu adalah pemindahan pusat ke Somba Opu, bukan pemutusan sejarah Kota Parepare lama. Pemindahan pusat perdagangan ke Somba Opu (Makassar) terjadi karena kedalaman laut lebih baik, akses langsung jalur internasional (Malaka–Maluku), kemampuan kontrol politik Gowa-Tallo bisa lebih efektif.

Tidak ada pemutusan sejarah, Bacukiki tidak hilang, Soreang tidak hilang, Suppa tidak hilang. Parepare tetap hidup sebagai 'hinterland port', jaringan lama tetap bekerja, ini pola umum kota Asia Tenggara abad ke-16, pusat boleh bergeser, jaringan tidak pernah mati.

Dengan demikian kapan sebetulnya “Hari Jadi kota Parepare”, perlu usaha penelitian yang baik dan seksama, ilmiah dengan merujuk pada naskah-naskah kuno “lontara attorioloang”, dan sebagainya untuk menentukan sejarah hari lahir kota yang sebenarnya. Jangan dibiarkan "Hari Jadi Kota”, ditentukan hanya oleh “perkiraan” atau “konon kabarnya”.

Penetapan Hari Jadi Kota Parepare dimaksudkan bukan sekadar untuk menandai usia administratif kota, tetapi sebagai momentum reflektif untuk menghargai akar sejarah, keberagaman peran kerajaan-kerajaan lokal, serta jasa tokoh-tokoh yang membentuk identitas Parepare sebagai kota pelabuhan yang berani, terbuka, dan berjiwa kebangsaan. 

Dan dengan belajar memahami masa lalu yang pernah terjadi jualah, masa kini serta masa depan dapat kita raih dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

(Bersambung)


Editor: Ibrah La Iman

Tags:
  • A. Makmur Makka
  • Ibrah La Iman
  • Opini
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Most popular
  • Penunjukan Plt RT 002 Ujung Sabbang Diprotes, Hendro: Terkesan Tidak Adil

    06 Maret
    Penunjukan Plt RT 002 Ujung Sabbang Diprotes, Hendro: Terkesan Tidak Adil
  • Bukber bareng Warga, Sri Tanty: Momentum Pererat Silaturahmi

    03 Maret
    Bukber bareng Warga, Sri Tanty: Momentum Pererat Silaturahmi
  • Antisipasi Harga Anjlok, Bulog Parepare Intensifkan Penyerapan Jagung Petani

    03 Maret
    Antisipasi Harga Anjlok, Bulog Parepare Intensifkan Penyerapan Jagung Petani
  • Berkah Ramadan, Ponpes Al-Hidayah Dapat Bantuan Pembangunan dari KP Asmaul Husna

    07 Maret
    Berkah Ramadan, Ponpes Al-Hidayah Dapat Bantuan Pembangunan dari KP Asmaul Husna
  • Dua Armada Pelayaran Disiapkan DLU Parepare Sambut Mudik Lebaran 2026

    06 Maret
    Dua Armada Pelayaran Disiapkan DLU Parepare Sambut Mudik Lebaran 2026
Rupa Mata
Rupa Mata
  • Redaksi
  • Visi Misi
  • Makna Logo dan Warna
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
Copyright © 2025 Rupa Mata. All rights reserved.