RUPA MATA

RUPA MATA

  • Nasional
  • Daerah
  • Regional
  • Budaya & Seni
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Advertorial
  • Politik
  • Kesehatan
  • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Opini
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Beranda
  • Opini

Pasar Senggol Tergeser: Kritik di Balik Gemerlap Event Parepare

Oleh Hestiana
16 September

Oleh: Arif Sulaeman 
Kabid PTKP HMI KOMISARIAT STAIN Parepare 

RUPAMATA.ID,PAREPARE--Event di Lapangan Andi Makkasau selalu disambut meriah. Ribuan pengunjung datang, menikmati hiburan, kuliner, hingga suguhan tenant modern yang berjajar rapi. 

Pemerintah Kota Parepare kerap menjadikan event ini sebagai bukti keberhasilan dalam membangun wajah kota sekaligus daya tarik wisata. Namun di balik gemerlap itu, ada sisi gelap yang sering terabaikan: nasib pedagang kecil dan eksistensi pasar senggol sebagai pasar malam tradisional yang kini kian terpinggirkan.

Pedagang lokal dan pelaku UMKM yang selama ini mengandalkan Lapangan Andi Makkasau justru merasakan penurunan pendapatan. Kehadiran tenant dari luar daerah dengan modal besar, tampilan modern, serta promosi gencar, membuat pengunjung lebih memilih berbelanja di area event daripada membeli dari pedagang kecil. 

Dampaknya tidak berhenti di situ. Pasar senggol, yang dulunya menjadi ikon pasar malam tradisional di Parepare, kini kehilangan daya tarik. Daya beli masyarakat bergeser, citra pasar senggol meredup, bahkan keberadaannya perlahan dianggap tidak relevan di tengah gegap gempita event modern.

Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius Wali Kota Parepare. Pemerintah tidak bisa hanya mengejar pencitraan melalui event besar tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap masyarakat kecil. Regulasi afirmatif harus diterapkan agar UMKM lokal mendapat ruang yang adil. 

Kuota khusus bagi pedagang lokal, biaya sewa yang terjangkau, serta integrasi pasar senggol dalam promosi event, menjadi langkah strategis yang harus segera diambil. Tanpa kebijakan ini, event hanya akan menjadi ajang kapitalisasi ruang publik yang menguntungkan segelintir pihak dan merugikan banyak pedagang kecil.

Kritik terhadap event Andi Makkasau bukanlah penolakan terhadap ruang publik dan hiburan masyarakat. Sebaliknya, ini adalah dorongan agar pemerintah mengubah paradigma pengelolaan event menjadi lebih inklusif dan berkeadilan. 

Event besar seharusnya tidak menghapus identitas pasar senggol, melainkan menguatkan posisi pasar tersebut sebagai bagian dari denyut ekonomi lokal Parepare. Sebuah kota akan dinilai berhasil bukan karena banyaknya lampu sorot di panggung hiburan, tetapi sejauh mana denyut ekonominya berpihak kepada rakyat kecil.(*)

Tags:
  • Opini
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Most popular
  • ICCN Sulsel Pilih Parepare Jadi Tuan Rumah Celebes Creative Festival 2026

    03 Juni
    ICCN Sulsel Pilih Parepare Jadi Tuan Rumah Celebes Creative Festival 2026
  • Persiapan CCF Makin Matang, Andiz Borong Rombongan Audiens ke Kapolres Parepare

    04 Juni
    Persiapan CCF Makin Matang, Andiz Borong Rombongan Audiens ke Kapolres Parepare
  • Wawali Hermanto jadi Narasumber di Raker APEKSI Komwil VI Kendari

    04 Juni
    Wawali Hermanto jadi Narasumber di Raker APEKSI Komwil VI Kendari
  • LKM Usaha Bersama Ujung Lare Periode 2026-2030 Resmi Tetapkan Sembilan Nama Pengurus Baru

    30 Mei
    LKM Usaha Bersama Ujung Lare Periode 2026-2030 Resmi Tetapkan Sembilan Nama Pengurus Baru
  • BULOG Tembus 3 Juta Ton Serapan Gabah-Beras Petani, Rekor Baru Penguatan Cadangan Pangan Nasional

    03 Juni
    BULOG Tembus 3 Juta Ton Serapan Gabah-Beras Petani, Rekor Baru Penguatan Cadangan Pangan Nasional
Rupa Mata
Rupa Mata
  • Redaksi
  • Visi Misi
  • Makna Logo dan Warna
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
Copyright © 2025 Rupa Mata. All rights reserved.